November 27, 2008

Sindrome Lele Fish

“Pesan apa Mas?”. Tanya salah seorang pelayan warung di salah satu warung “Sari Laut” di Jl. A.P Pettarani kepada saya dan sahabat saya waktu itu. Saya dan sahabat saya ini memang sering dan senang makan di tempat itu. Kami telah ketagihan makan di tempat itu, meskipun tempat itu ramai akan pengunjung. Mungkin itulah salah satu daya tariknya. Hampir setiap kali jika saya makan di sana, saya selalu memesan Nasi dan Ayam sebagai lauknya. Entah kenapa tiba-tiba malam itu saya memesan Ikan Lele sebagai lauknya. “Tidak biasanya”, kata sahabat saya yang menemani saya makan kala itu. “Hahahaha, saya cuma mau improvisasi aja, bosan makan ayam terus-terusan setiap kali saya ke sini, kata saya menanggapi pernyataannya”. “Ya, terserah kamu aja lah, yang jelas saya sudah tidak mau lagi makan Ikan lele”. Mendengar pernyataannya, saya langsung tertawa terbahak-bahak karena saya tahu alasannya kenapa dia tidak mau makan ikan lele. Dia telah terkena syndrome afraid terhadap Ikan lele, sehingga dia sudah tidak mau lagi makan ikan lele. Dia bukannya alergi terhadap ikan tersebut, tapi ada trauma yang sangat mendalam setiap kali mendengar nama ikan tersebut.
Penyakit gila, nan aneh bin ajaib ini telah menjangkiti sahabat saya selama kurang lebih tiga tahun. Penyakit syndrome afraid to Lele fish ini didapatnya ketika kami berada di Bandar Lampung sekitar tahun 2005 yang lalu. Waktu itu, kami pergi ke Bandar Lampung untuk mengunjungi teman Filatelinya yang tinggal di sana. Sahabat saya ini memang hobby mengoleksi perangko alias filateli. Ayah dari Kenalannya merupakan mantan anggota dewan perwakilan rakyat daerah Provinsi Lampung. Karena telah pensiun, ayahnya berinisiatif untuk pindah tempat tinggal di kampung halaman istrinya di sebuah desa yang asri nan indah di ranah Lampung. Rumahnya sangat berbeda dengan rumah-rumah pada umumnya. Desainnya mirip rumah boegis-makassar tempo dulu. Memiliki halaman yang luas, dan sebuah empang Ikan lele yang terletak di belakang rumah. Ikan Lele di empangnya itu cukup banyak dan besar-besar. WC atau kamar mandinya pun terletak di belakang rumah dan tepat di atas empang Ikan lele tersebut. Jadi setiap kali penghuni rumah buang air besar maka setiap kotoran yang berasal dari WC akan menuju ke empang.

Selama sekitar satu minggu di sana, saya mendapatkan begitu banyak pengalaman yang menarik, menggelitik, menyenangkan dan menyedihkan. Salah satunya adalah terinveksinya sahabat saya virus Sindrome afraid to Lele fish. Padahal proses terinveksinya virus bisa dibilang cukup aneh dan tidak masuk di akal. Waktu itu kira-kira di hari ke tiga kami di sana, saya dan sahabat saya bersama anak tuan rumah yang merupakn teman fillateli sahabat saya jalan-jalan mengelilingi empang di belakang rumah sambil memberi makan ikan-ikannya . “Ikan-ikannya besar-besar ya, seukuran paha saya”, kata sahabat saya. Ikan-ikan disini memang besar-besar, soalnya tiap hari kami beri makan dan kami rawat, kata sang pemilik rumah. Mendengar percakapan kedua teman saya itu, saya Cuma tertwa dalam hati, sambil bergumam dalam lubuk hati yang paling dalam “bagaimana ikannya tidak berukuran besar, tiap hari mereka makan sisa makanan kita. Makanan yang telah kita olah menajdi energy dan yang lainnya telah dimakan oleh ikan-ikan ini, jadi wajarlah mereka besar-besar”. Ya, semua kotoran dari WC/jambangan bermuara di empang, jadi semuanya menjadi santapan bergizi ikan-ikan yang ada di empang itu. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi fisik dan ukuran ikan-ikan penghuni empang itu.
Dimalam harinya, saat maka malam, seperti biasa kami disuguhkan makanan yang enak. Sayur yang segar dan lauk pauk yang nikmat. Termasuk ikan lele bakar yang sangat besar dan wangi baunya karena dibakar dengan bumbu special racikan nyonya rumah. Semua penghuni rumah yang makan bersama kami waktu itu makan dengan lahapnya, termasuk saya. Tapi saya Cuma makan lauk pauk Ayam goreng, bukan ikan lele bakarnya. Yang mengherankan, semua ikan lele bakar luder habis dilahap dalam padahal saya tidak memakannya. Selesai makan, kami berkumpul diruang keluarga sambil minum-minumn teh hangat dan makan pisang goreng. “Wah, masakan tante enak banget, nikmat sekali, ikan lelenya itu enak sekali, saya makan sedikit nasi, tapi ikan lelenya aja yang banyak. Solanya enak banget”, tiba-tiba sahabat saya membuka pembicaraan”. Hahahaha, ikan lele itu memang enak, apalagi kalo dibakar. Kalau kamu suka, besok saya tangkapkna lagi. Tadi saya Cuma nangkap beberapa ekor, karena kebetulan tadi pagi ibu tidak ke pasar, jadi saya tangkap aja ikan yang ada di empang di belakang rumah. Karena memang ikan yang ada di empang di belakang rumah itu memang kami pelihara selain untuk dijual juga dimakan sebagai lauk pauk.” Mendengar perkataan dari tuan rumah, kontan saja saya langsung lari ke belakang, bukan untuk muntah tapi untuk ketawa. Menertawai sahabat saya, yang waktu itu langsung pucat sesaat setelah perbincangan berlangsung. Entah apa yang terjadi dengannya, karena beberapa menit berselang dia masuk ke kamar mandi. Sekitar 30 menit dia di dalam kamar mandi. Setelah keluar, dia memandangi saya dengan wajah pucat pasi. “itulah sebabmya saya tidak memakan ikan tadi, saya Cuma makan ayam soalnya saya sudah tahu kalau ikan itu berasal dari empang di belakang rumah”. Tapi sahabat saya ini Cuma terdiam membisu mendengar perkataan saya. Nah, sejak saat itulah dia terasuki oleh penyakit aneh tadi. Mengherankan, dan tentunya tidak masuk diakal memang, hanya karena kasus seperti ini dia trauma dengan Ikan lele. Padahal ikan yang dia makan tidak membuatnya sakit, hanya saja dia terlalu mendramatisir masalah. Mungkin saja di tahu bahwa ikan yang dia makan tidak membawa dampak negative padanya. Memang, ikan tersebut memakan kotoran manusia, namun ikan tersebut juga telah mencernanya dalam tubuhnya sehingga menjadi daging. Sahabat saya ini terlalu berparadigma buruk, bahwa dia telah makan ikan lele yang makanan sehar-harinya adalah kotoran manusia, jadi dia juga telah memakan kotoran alias tinja manusia.
Dari kasus sahabat saya di atas, tentunya kita semua bisa mengambil hikmah dan pelajaran.

0 komentar:

My Big Family