Sudah hampir memasuki tahun ke enam, saya berstatus sebagai seorang mahasiswa. Itu artinya, sudah hampir enam tahun pula saya kuliah, tapi sampai sekarang belum sarjana. Saya termasuk salah satu jenbis MAPALA alias mahasiswa paling laris (Mahasiswa paling lama maksudnya, hehehe). Padahal hampir semua teman-teman seangkatan saya sudah ada yang sarjana, malah sudah ada yang kerja. (Walaupun masih ada beberapa yang masih nganggur, dan lanjutin S2 nya). Tapi jangan tanya saya apa ada yang sudah nikah ya? Soalnya menurut pengetahuan saya, belum ada tuh teman seangkatan saya yang dah punya suami, istri, anak, apa lagi cucu.
Sebenarnya, banyak faktor sech yang menyebabkan saya belum meraih gelar kesarjanaan. Seperti faktor kecerdasan yang di bawah rata-rata, faktor biaya, faktor kesibukan, dll. Tapi, faktor yang paling dominan adalah faktor kemalasan.
Dulu, ketika masih awal-awal kuliah alias ketika masih berstatus sebagai seorang mahasiswa, saya itu rajin banget ke kampus. Saking rajinnya, hampir tiap hari loch saya ke kampus. Entah itu hari sabtu kek, hari minggu nek, hari libur nak, saya pasti ke kampus. Saking rajinnya, saya sering nginap di kampus, kalau tidak nginap, pasti pulangnya malam, tengah malam, atau lewat tengah malam. Tapi, walaupun saya ke kampusnya rajin, masuk kelasnya (masuk kuliah) tidak rajin, hehehehe. Jadi bisa ditebak, indeks prestasi kumulatif (bahasa gaulnya IP) saya waktu itu adalah IP rotring. Pasti tahu kan apa IP rotring itu? Klo belum tahu, ok dech saya jelasin. He.. he.. he.. he.. IP roting itu adalah IP seperti ukuran pulpen atau pensil rotring, misalnya 0,1; 0,3; 0,5; 1,0; 1,5 dll. IP sakral seperti ini, hanya mampu didapatkan oleh mahasiswa-mahasiswa yang malas kuliah dan malas belajar, jadi klo tidak malas ya tidak mungkin dong mendapatkan IP rotring. He.. he.. he…
Nah, memasuki tahun ke tiga kuliah, sifat rajin saya ke kampus berubah menjadi sifat malas ke kampus. Saking malasnya, hampir tiap hari saya tidak ke kampus. Saking malasnya ngampus, sampai-sampai info-info yang ada di kampus saya tidak tahu. Alias ketinggalan informasi. Info tentang beasiswa, seminar, sampai kondisi atau keadaan kampus dan teman-teman seangkatan, junior, senior, sampai dosen saya tidak tahu (parah kan?). bukan itu saja, saking malasnya saya ngampus sampai-sampai Final test saya tidak ikuti. Jadi bisa dipastikan, IP saya berubah dari IP rotring menjadi IP kacamata. Tahu tidak apa itu IP kacamata? Klo tidak tahu, ok dech saya jelasin lagi (saya jadi capek ngejelasin terus, makanya banyak baca dong, dan banyak bergaul ma mahasiswa yang dah lama kuliah tapi kagak lulus-lulus). IP kacamata itu adalah IP yang angka di depan koma adalah nol dan angka di belakang koma juga nol alias 0,0. IP kacamata ini hanya bisa didapat oleh mahasiswa yang jarang sekali datang kuliah, tidak pernah ngumpul tugas, tidak pernah ikut mid test, dan atau final test.
Ketika melihat teman-teman di wisuda, dibuatkan spanduk ucapan selamat di kampus, terus mendapatkan pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan saya jadi cemburu, iri, dan bangga. Iri dan cemburu karena saya belum bisa seperti mereka, menyelesaikan studi dan meraih gelar keserjanaan. Tapi, sebagai seoranf teman, ya tentunya saya bangga dong karena mereka berhasil menyelesaikan studi dengan cepat dan membanggakan. Dan berhasil meraih apa yang selama ini mereka cita-citakan. Sementara saya, jangankan mendapatkan pekerjaan yang layak, mendapatkan titel sarjana aja belom. Makanya, kenapa saya tidak mau melanjutkan studi ke S2, karena nyelesaiin studi di S1 aja saya dah setengah mati, bagaimana dengan S2 nantinya? Mungkin nyelesainnya saya dah mati kaleeeeeeeeeeeeee???
Sekarang, orang tua, kakak, adik, teman, musuh, pacar, mantan pacar, teman tapi mesra, hampir tiap hari marahin dan nasehatin saya. Tiap hari mereka bertanya, bagaimana dengan kuliah saya? Kapan saya mampu nyelesaikannya? Ada apa denganmu? Ada apa gerangan dengan kuliahmu? Mungkin mereka dah pada bosen kali ya nasehatin dan marahin saya.
Saya aja dah stress, frustasi (pokoknya semua jenis penyakit stress dan konco-konconya) setiap kali mikirin hal ini. pertanyaan yang sama dengan mereka selalu terlintas di pikiranku, kapan ya saya sarjana? Sebenarnya sech, niat untuk berubah itu ada, tapi tidak tahu kenapa sampai sekarang saya belum bisa merubah sifat malas saya.
Malah sekarang, saya tambah malas ke kampus, apa lagi teman-teman seangkatan saya dah pada sarjana. Jadi, kalau saya ke kampus tidak ketemu ma teman seangkatan yang belum sarjana, saya langsung pulang aja. Malu tauuuuuuuuuuuu. Pa lagi kalau harus satu kelas ma maba, saya tambah malu masuk kelas. Untung kalo ada senior atau teman seangkatan yang juga ngambil mata kuliah yang sama, klo tidak ada??? Waduh, apa kata maba? Apa kata dosen? Ya, mungkin mereka kan bilang “Ngapain aja lo selama ini”? Teman-teman lo dah jadi orang sukses dan berhasil, lo masih ngulang mata kuliah. Dasar cumi (contoh mahasiswa yang tidak pantas untuk ditiru)”.
Yach, mo gimana lagi? Penyesalan itu selalu datang terlambat. Dan waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali lagi.
Tapi saya janji kok, saya pasti akan menyelesaikan studi saya secepatnya. Sweeeeeeeeeeeeerrr dech, OK?
September 15, 2008
Tanya Kenapa?
Diposkan oleh Fadli Beckham di 22:31
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
















0 komentar:
Poskan Komentar