Tiga tahun yang lalu sepulang dari memanen padi di sawah, saya dengan iseng bertanya pada tetangga “Bagaimana hasil panennya?'' Tetangga saya menjawab, ''Panen tahun ini adalah panen yang saya sukai.” Merasa penasaran dengan jawaban tersebut, saya bertanya lagi, ''Kenapa bapak berkata seperti itu? Bukankah hasil panen tahun ini bisa dibilang kurang memuaskan akibat kemarau yang berkepanjangan dan serangan hama tikus?''
Tetanggaku menjawab, ''Begini nak , saya sudah belajar bahwa saya tak selalu mendapatkan apa yang saya sukai, karena itu saya selalu menyukai apapun yang saya dapatkan.''
Jawaban singkat tadi merupakan salah satu wujud perasaan syukur. Syukur merupakan bentuk kualitas hati yang jernih. Dengan bersyukur kita akan senantiasa diliputi rasa damai, tenteram, bahagia dan sejahtera. Sebaliknya, apabila tidak pernah bersyukur maka perasaan tidak tenang dan takut akan ketidakcukupan senantiasa selalu membebani kita. Sehingga kita akan selalu merasa kekurangan, tidak berkecukupan dan hidup tidak bahagia.
Ada dua hal yang sering membuat kita tidak bersyukur.
Pertama, kita sering memfokuskan diri pada apa yang diinginkan, bukan pada apa yang dimiliki. Misalnya, ketika sudah memiliki sebuah rumah yang mewah, kendaraan pribadi, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Akan tetapi, hal tersebut belumlah cukup, masih terasa kurang.
Pikiran telah dipenuhi berbagai target dan keinginan. Kita begitu terobsesi oleh rumah yang besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Masih menginginkan ini dan itu. Bila tak mendapatkannya kita terus memikirkannya. Tapi anehnya, walaupun sudah mendapatkannya, kita menikmatinya hanya sebagai kesenangan sesaat. Kita tetap tak pernah merasa puas, selalu ingin yang lebih. Jadi, betapapun banyaknya harta yang dimiliki, kita tak pernah merasa menjadi ''kaya'' dalam arti yang sesungguhnya.
Sebagian besar orang beranggapan bahwa orang yang kaya adalah orang yang memiliki banyak hal. Tapi sebenarnya orang yang ''kaya'' bukanlah orang yang memiliki banyak hal, tetapi orang “kaya adalah orang yang dapat menikmati apapun yang mereka miliki.
Memiliki banyak keinginan, adalah hal yang sangat wajar dan dibolehkan tapi kita perlu menyadari bahwa keinginan untuk memiliki banyak hal inilah yang merupakan akar dari segala pokok permasalahan. Kita dapat mengubah hal ini dengan berfokus pada apa yang sudah kita miliki. Biasakanlah untuk selalu melihat keadaan di sekeliling, pikirkan yang Anda miliki, dan syukurilah. Maka Anda akan merasakan kenikmatan hidup yang sesungguhnya.
Pusatkanlah perhatian pada sifat-sifat baik orang-orang di sekitar. Mereka akan menjadi lebih menyenangkan. Seorang pengarang pernah mengatakan, ''Menikahlah dengan orang yang Anda cintai, setelah itu cintailah orang yang Anda nikahi.'' Ini perwujudan dari rasa syukur.
Ada cerita menarik mengenai seorang kakek yang mengeluh karena tak dapat membeli sepatu, padahal sepatunya sudah lama rusak. Suatu sore ia melihat seseorang yang tak mempunyai kaki, tapi tetap ceria. Saat itu juga si kakek berhenti mengeluh dan mulai bersyukur.
Hal kedua yang sering membuat kita tak bersyukur adalah kecenderungan membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Kita selalu merasa orang lain senantiasa lebih beruntung daripada kita. Kemanapun kita pergi, selalu ada orang yang lebih pandai, lebih hebat, lebih tampan, lebih cantik, lebih percaya diri, dan lebih kaya daripada kita.
Saya masih ingat ketika pertama kali kuliah, saya senantiasa membandingkan kehidupan saya dengan rekan-rekan sesama mahasiswa. Perasaan iri, resah dan gelisah selalu menghantui saya. Sebagai soerang mahasiswa yang hanya berasal dari kampung dan keluarga yang sederhana, saya merasa iri setiap melihat ada kawan satu angkatan yang memiliki Handphone, Motor, computer ataupun uang kiriman bulanan yang melebihi uang bulanan saya. Hampir setiap waktu saya memikirkan cara untuk menyaingi mereka. Termasuk berbohong kepada orang tua di kampong. Sampai akhirnya saya menyadari bahwa hal ini tak ada gunanya dan tak akan pernah ada habisnya. Saya menyadari bahwa saya bukanlah orang yang memiliki banyak harta, jadi saya tidak boleh bersikap seperti orang yang punya banyak harta. Sejak saat itu saya berubah dan mulai mensyukuri apa yang saya miliki. Kini saya sangat menikmatinya.
Ya, rumput tetangga memang sering kelihatan lebih hijau dari rumput di pekarangan sendiri. Ada cerita menarik mengenai dua pasien rumah sakit jiwa. Pasien pertama sedang duduk termenung sambil menggumam, ''Lulu, Lulu.'' Seorang pengunjung yang keheranan menanyakan masalah yang dihadapi orang ini. Si dokter menjawab, ''Orang ini jadi gila setelah cintanya ditolak oleh Lulu.'' Si pengunjung manggut-manggut, tapi begitu lewat sel lain ia terkejut melihat penghuninya terus menerus memukulkan kepalanya di tembok dan berteriak, ''Lulu, Lulu''. ''Orang ini juga punya masalah dengan Lulu?'' tanyanya keheranan. Dokter kemudian menjawab, ''Ya, dialah yang akhirnya menikah dengan Lulu.''
Hidup akan lebih bahagia kalau kita dapat menikmati apa yang kita miliki saat ini. Karena itu bersyukurlah dengan segala kelebihan dan semua kekurangan yang ada pada diri anda. Sekali lagi, bahwa bersyukur adalah bentuk kualitas hati yang paling tinggi. Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan cerita mengenai seorang ibu yang sedang terapung di laut karena kapalnya karam, namun tetap berbahagia. Ketika ditanya kenapa demikian, ia menjawab, ''Saya mempunyai dua anak laki-laki. Yang pertama sudah meninggal, yang kedua hidup di tanah seberang. Kalau berhasil selamat, saya sangat bahagia karena dapat berjumpa dengan anak kedua saya. Tetapi kalaupun mati tenggelam, saya juga akan berbahagia karena saya akan berjumpa dengan anak pertama saya di surga.''
September 21, 2008
MARI KITA BERSYUKUR
Diposkan oleh Fadli Beckham di 23:35
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)
















0 komentar:
Poskan Komentar