September 17, 2008

INDONESIAKU

Di Indonesia, warung-warung laris selalu dikuntit pengamen dan
pengemis, trotoar-trotoar selalu mengundang kaki lima dan keramaian
selalu mengundang copet. Lalu kenapa tidak ada hidup yang tenang di
negeri ini. Kenapa ketika kita enak-enak makan, selalu ada pengamen
dan pengemis hilir mudik bergantian. Kemunculannya saja sudah
mengganggu apalagi jika bergantian. Bergantian saja sudah
menjengkelkan, apalagi jika tidak sopan. Ketika kita diam saja
karena memendam kemarahan, pengemis sekecil itu misalnya, malah
sudah bisa berlalu dengan umpatan: ''Idih si Om bisu!''
Kenapa di negeriku, untuk berjalan kaki saja susahnya minta
ampun. Baru saja trotoar itu usai dibangun sudah ada tukang tambal
ngejogrog di pojoknya. Lama-lama kios rokok, warung bensin
eceran, gerobak siomay, dan akhirnya sepanjang tertotoar itu adalah
deretan kaki lima belaka. Oya, yang lalu-lalu malah suka ada pula
posko partai. Sampai posko-posko itu dibongkar belum jelas
kesimpulan kita, seberapa besarkah sumbangannya bagi kemajuan
bangsa.

Kenapa setiap keramaian di negeriku hampir selalu diikuti
kegaduhan. Jika ada pentas dangdut selalu ada tawuran, jika ada
wayang kulit semalaman selalu ada bandar dadu di kejauhan, jika ada
sepak bola selalu ada keributan. Kenapa keributan tidak cuma bisa
ditemukan di stadion bola melainkan juga di gedung-gedung dewan. Dan
ini yang terakhir, yang paling terkenal, paling menimbulkan derita
berkepanjangan; kenapa selalu ada korupsi mengikuti kekuasaan.
Inilah agaknya biang penyakit itu. Jika biangnya sakit,
seluruhnya akan menjadi sakit. Maka menjadi aneh, jika hidup di
negeri yang sakit ini kita ingin sehat sendirian. Cuma mau makan
enak tapi menganggap pengamen dan pengemis sebagai gangguan. Menjadi
tidak jelas siapakah sejatinya pengganggu yang sebenarnya itu,
pengemis yang main paksa atau kita yang makan enak di depan mata
mereka. Siapakah lalu akhirnya yang tak bermalu itu, pengemis yang
suka mengumpat, atau kita yang tetap saja berpesta di tengah
kesakitan bersama.
Padahal jumlah makan enak kita begitu besarnya. Yang dinamakan
enak itu kemudian bukan cuma makanan melainkan juga proyek dan
kekuasaan. Maka apa saja bisa diproyekkan agar enak dimakan. Saking
besarnya nafsu makan kita ini sehingga menjadi kuranglah jatah
lainnya, di antaranya pasti jatah pengemis, pengamen dan
sebangsanya.
Mereka pasti bukan sekadar kaum berandalan yang lahir begitu
saja. Mereka pasti dilahirkan oleh hukum sebab akibat yang
sederhana; karena pertumbuhan hanya dipusatkan pada diri sendiri,
maka mereka tak kebagian apa-apa lagi.
Para pedagang kaki lima yang memenuhi trotoar jalan-jalan itu,
sejatinya adalah tempelengan yang keras ke muka kita sendiri. Kita
tidak sanggup menggusur mereka bukan karena argumentasi yang telah
kita hafal itu; bahwa negeri ini sedang susah, bahwa pertumbuhan
selalu lebih penting katimbang kebersihan dan ketertiban. Maka mari
kita tidak usah bersih dan tidak tertib asal tak didera
kelaparan.
Kita mengerti kebenaran alasan ini. Tapi karena saking benarnya,
sampai kita lupa pada setengah alasan yang lain lagi, alasan yang
rapat tersembunyi, dan kita sering takut untuk berterus terang.
Bahwa kenapa kita selalu gagal dalam membuat kebersihan, karena si
tidak bersih itu pasti bukan orang bodoh, mereka adalah orang
mengerti bahwa yang kotor pasti bukan mereka sendiri. Apalagi jika
ternyata kekotoran mereka itu, tak lebih sekadar cipratan lumpur
yang belepotan di tubuh kita sendiri.

0 komentar:

My Big Family