September 19, 2008

BELAJAR DARI SANG SURYA

Di sebuah kota tinggallah dua orang bijak yang sudah hidup bersama selama 30 tahun. Selama itu mereka belum pernah sekalipun bertengkar. Suatu hari seorang dari mereka berkata, ''Tidakkah kau berpikir bahwa inilah saatnya kita bertengkar, paling tidak sekali saja?'' Kawannya menyahut, ''Bagus kalau begitu! Mari kita mulai. Apa yang harus kita pertengkarkan?'' Orang bijak pertama menjawab, ''Bagaimana kalau sepotong roti ini?''
''Baiklah, marilah kita bertengkar karena roti ini. Tapi, bagaimana kita melakukannya?'' tanya orang bijak kedua. Orang bijak pertama lalu berkata, ''Roti ini punyaku. Ini milikku semua.'' Orang bijak kedua menjawab, ''Kalau begitu, ambil saja roti itu.''
Wah, alangkah damainya dunia ini kalau kita semua berperilaku seperti dua orang bijak tersebut. Kalau saja kita mau merenung, maka pertengkaran, perselisihan, dan peperangan yang terjadi di dunia ini bersumber dari keinginan kita untuk meminta sesuatu dari orang lain? Ketika orang yang kita mintai tidak mampu memberikan apa yang kita minta, seringkali kita menjadi marah, jengkel dan menganggapnya kikir atau pelit. Sebaliknya, ketika orang lain meminta sesuatu kepada kita, seringkali kita tidak memberikannya atau bahkan seringkali kita menjadi marah, jengkel dan menganggapnya tukang minta-minta. Kita suka meminta, tapi sayangnya kita tak suka memberi.

Dalam kehidupan rumah tangga kita selalu meminta perhatian dan pengertian teman serumah. Namun jarang sekali kita memberikan mereka perhatian dan pengertian ketika mereka memintanya. Di sekolah, kita sering meminta bantuan teman, dan meminta kebijakan para Guru. Namun jarang sekali kita memberikan bantuan kepada teman ketika mereka membutuhkan bantuan kita, dan kita selalu lupa jasa-jasa Guru ketika telah meraih impian dan kesuksesan. Di tempat kerja, kita meminta bantuan bawahan, meminta pengertian rekan sejawat, dan meminta gaji yang tinggi pada atasan. Di negara, kita selalu meminta pengertian pemerintah, meminta negara untuk menjamin kehidupan kita agar lebih sejahtera. Namun, selama ini kita belum memberikan sumbangsih yang berarti terhadap pemerintah dan negara. Kepada Tuhan, setiap waktu kita meminta rahmat dan anugerah kepadaNya. Namun seringkali kita lupa untuk bersyukur kepadaNya.
Bahasa kita sehari-hari adalah ''bahasa'' meminta. Mengapa kita suka meminta tetapi sulit memberi? Apakah kita percaya kepada anggapan yang mengatakan, ''Dengan meminta milik Anda akan bertambah, sebaliknya dengan memberi milik Anda akan berkurang.?'' Pikiran semacam ini hanya akan menimbulkan ketamakan dan perasaan takut untuk berbagi kepada sesama. Padahal hukum alam menyatakan yang sebaliknya. Justru dengan banyak memberi, kita akan banyak pula menerima. Orang yang disenangi dalam pergaulan adalah mereka yang suka memberi. Sebaliknya orang-orang yang dibenci dalam masyarakat adalah mereka yang pelit dan tak pernah memberi.
Keinginan untuk memberi tak ada kaitannya dengan banyaknya harta yang kita miliki. Banyak orang yang kaya raya tapi sulit sekali memberi. Mereka tak mau memberi karena takut miskin. Seolah-olah dengan memberi, apa yang mereka miliki akan terkuras habis. Mereka sesungguhnya orang yang benar-benar miskin. Karena bukankah ketakutan akan kemiskinan merupakan kemiskinan itu sendiri?
Sebaliknya ada orang yang sederhana tetapi senantiasa mau berbagi dengan orang lain. Mereka inilah orang-orang yang kaya. Yang menjadikan kita kaya sebenarnya bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak kita memberi kepada orang lain. Sumber kekayaan yang sejati sebenarnya terletak di dalam diri kita sendiri. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari akan hal ini. Untuk mendapatkan sumber kekayaan dalam diri, kita harus menemukan caranya. Dan caranya adalah dengan memberi kepada orang lain! Karena manusia hanyalah makhluk social yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, maka sangatlah wajar kiranya kita memberikan bantuan kepada sesama.
Amalan memberi tak selalu harus berkaitan dengan materi dan uang. Kahlil Gibran mengatakan, ''Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti.
Meminjam Hadist Rasulullah S.A.W “Apabila kamu tidak dapat memberikan kebaikan pada orang lain dengan kekayaanmu, berilah mereka kebaikan dengan wajahmu yang berseri-seri disertai akhlak yang baik. Ada banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi. Anda bisa memberikan perhatian, pengertian, waktu, energi, pemikiran, pujian, dan ucapan terima kasih. Anda bisa memberikan jalan bagi pengendara mobil lain di jalan raya. Anda juga bisa sekedar memberikan senyuman. Hal-hal yang sederhana ini dapat berarti banyak bagi orang lain.
Orang yang enggan memberi adalah mereka yang tak pernah belajar dari kehidupan itu sendiri. Padahal esensi kehidupan adalah memberi. Tuhan sebagai sumber kehidupan adalah Sang Maha Pemberi. Lihatlah, betapa Tuhan telah memberikan segalanya tanpa pilih kasih, tak peduli kita baik ataupun jahat. Inilah unconditional love, sebuah cinta tanpa syarat.
Seorang ibu juga adalah pemberi yang tulus, yang telah memberikan seluruh hidupnya untuk anak-anak yang dicintainya. Sebuah lagu menggambarkan hal ini dengan sangat indah, ''Kasih ibu kepada beta/Tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap kembali/Bagai sang surya menyinari dunia.''
Sedikit bantuan anda kepada orang yang membutuhkan, bisa menjadi banyak bagi mereka yang menerima bantuan kita.

0 komentar:

My Big Family